Disclaimer:
This post is originally written by me, as
the owner and main author of this blog, based on my own opinion. I don’t have
any affiliates with anyone and do not receive any compensation from any party
in any kind of things. I write this post because I’d love to share what’s
meaningful for me.
Thank you.
---
Metoda
Montessori merupakan salah satu metoda pendidikan anak yang dikembangkan oleh
dokter wanita pertama di Italia bernama Dr. Maria Montessori. Metoda ini
memadukan antara ilmu kedokteran {psikologi anak} dan ilmu pendidikan
konvensional dengan merancang aktivitas dan peralatan edukatif sesuai kebutuhan
anak, khususnya untuk rentang usia 0-12 tahun, secara universal {mempelajari
kebudayaan seluruh dunia} dan bertujuan untuk membentuk anak yang mandiri,
percaya diri, dan menghargai perbedaan sehingga dapat menjadi warga dunia yang
handal.
Metoda
Montessori sangat memperhatikan kepentingan dan kebutuhan anak secara
perorangan {child centered} dan memiliki prinsip-prinsip dan tata cara
pelaksanaan yang terdefinisi dengan jelas maksud dan tujuannya. Hal inilah yang
mungkin menjadi perbedaan signifikan dengan aktivitas belajar anak lainnya yang
tidak memiliki label “metoda Montessori”. Secara umum, Metoda Montessori
mencakup 5 area:
- Practical Life
- Sensorial
- Cultural
- Language
- Mathematics
Kemudian
saya mencari nara sumber metoda ini di Indonesia dan saya menemukan Rumah Montessori {Montessori 4 Everyone}. Setelah membaca profil Rumah Montessori,
saya menyadari bahwa pemilik blog ini adalah Mbak Ivy Savitri, seorang ibu yang
berasal dari almamater yang sama dengan saya, yaitu SMU Negeri 5 Bandung {tentu
dari tahun angkatan yang berbeda hehe..}
Setelah
beberapa kali kontak melalui email dan BBM, saya diundang mengikuti mini
workshop pengenalan Metoda Montessori pada tanggal 31 Maret 2012 lalu.
Kebetulan hari itu suami saya tidak ada acara, maka saya bisa mengikuti mini
workshop yang hanya diadakan satu hari selama 3 jam saja.
{saya akan
membuat tulisan terpisah mengenai hal-hal yang saya pelajari di dalam mini
workshop ini}
Bagi saya
pribadi, mini workshop ini memang rasanya kurang hehe.. Banyak hal baru yang
saya peroleh di sini. Kami dikenalkan pada konsep dasar Metoda Montessori dan
contoh-contoh praktisnya. Kebanyakan peserta adalah guru atau ahli pendidikan,
tapi ada juga beberapa ibu rumah tangga yang ingin tahu dan belajar mengenai
konsep PAUD ini, seperti saya.
Di akhir
tahun 2012 ini, Rumah Montessori kembali mengadakan short course yang mengupas
semua materi dasar Metoda Montessori untuk PAUD.
Short
course ini akan diadakan sebanyak 9x pertemuan, setiap hari Sabtu, minggu ke-1
dan ke-3, pk. 09.00-12.00, dan akan dimulai pada tanggal 8 Desember 2012 ini.
Yang akan diperoleh dari
short course ini adalah:
- training
- review
/ uji kemampuan
- tutorial
singkat tentang cara menilai
progress anak-anak di kelas Montessori
- diskusi membuat Child Progress
Report, berikut contohnya
- pemberian tugas pembuatan
beberapa alat Montessori
Cakupan materi short course kurang lebih sebagai berikut:
- Filosofi singkat Metoda
Montessori
- Teori & Praktek Exercises
of Practical Life (EPL)
- Teori &
Praktek Sensorial (Visual)
- Praktek
Sensorial (Visual, Tactile, Auditory, Olfactory, Gustatory)
- Review/Uji
Praktek EPL dan Sensorial
- Teori &
Praktek Cultural
- Teori &
Praktek Language
- Teori &
Praktek Mathematics
- Review/Uji
Praktek Cultural, Language and Mathematics
- Evaluasi
& Tutorial singkat tentang cara menilai progress anak-anak di kelas
Montessori & pembuatan Child Progress Report
Short course ini hanya dibatasi untuk 15 orang saja. Jika
tertartik dan butuh informasi lebih lanjut {mengenai investasi biaya, lokasi,
dan sebagainya}, bisa menghubungi Rumah Montessori, dengan Ibu Ivy {021.70777005}
Salah seorang rekan saya di gereja yang juga berprofesi
sebagai guru dan memiliki pendidikan magister bidang PAUD pernah mengatakan
bahwa Metoda Montessori memang baik, namun dengan konsep “Help to do it myself”
dapat menjadi celah seorang anak untuk mengandalkan diri sendiri dan kurang
mengandalkan Tuhan. Saya setuju dengan prinsip itu, bahwa seorang anak harus
diajarkan untuk mengandalkan Tuhan.
Namun di sisi lain, saya, sebagai orang awam teori
pendidikan anak, juga sangat tertarik dengan konsep Metoda Montessori yang
mengajarkan kepada anak-anak untuk life-ready; memiliki konsep aktivitas dan
peralatan yang jelas secara fungsi, cara penyampaian, dan kontrolnya;
menerapkan pola pengajaran anak secara interaktif dan melibatkan seluruh
indera.
Jadi bagi saya solusinya adalah keseimbangan dan filter (⌒˛⌒)
Saya perlu memberikan aktivitas edukasi yang bisa
mengembangkan anak-anak saya untuk menjadi pribadi yang handal, namun juga
tidak melupakan peran Tuhan sebagai kontrol utama di dalam kehidupannya. Saya,
sebagai mama anak-anak, wajib melakukan filterisasi untuk setiap konsep-konsep
pendidikan yang ditanamkan kepada anak-anak saya, terutama pada usia dini, the
golden years 0-6 tahun. Karena itu saya sangat yakin bahwa orang tua adalah the best educator for their children, terutama on their early years.
Saya akan mengadopsi hal-hal yang baik dan berguna bagi
perkembangan anak-anak saya dari metoda apapun, termasuk Metoda Montessori ini;
dan saya akan terus mendorong diri saya untuk terus belajar dan mencari tahu
tentang apa yang diperlukan untuk anak-anak saya sambil berdoa untuk hikmat dan tuntunan dari Roh Kudus (⌒˛⌒)
“Education is a natural process carried out by the child and is not
acquired by listening to words but by experiences in the environment.”
"You shall teach them diligently to your
children, and shall talk of them when you sit in your house, and when you walk
by the way, and when you lie down, and when you rise. "
{Deuteronomy 6:7}
"We do not develop habits of genuine
love automatically. We learn by watching effective role models – most
specifically by observing how our parents express love for each other day in
and day out. "
"Each day of our lives we make
deposits in the memory banks of our children."
“The family should be a closely knit group. The
home should be a self-contained shelter of security; a kind of school where
life’s basic lessons are taught; and a kind of church where God is honored; a
place where wholesome recreation and simple pleasures are enjoyed.”
Let’s raise great children for the Kingdom of God! °\(^▿^)/°
---